Dari Temuan Pajak ke Keputusan Investasi Cara Membaca Laporan Due Diligence

Laporan tax due diligence yang berguna membantu manajemen menentukan keputusan, bukan hanya mengetahui daftar kesalahan. Pembaca perlu memahami nilai yang mungkin terdampak, seberapa kuat bukti yang tersedia, kapan konsekuensinya dapat muncul, dan tindakan apa yang masih dapat dilakukan.

Label “risiko tinggi” tidak cukup jika tidak disertai alasan. Risiko dapat dinilai tinggi karena nilainya besar, bukti lemah, proses pemeriksaan sedang berjalan, atau masalah yang berulang. Masing-masing keadaan membutuhkan respons yang berbeda. Karena itu, pembaca perlu melihat definisi kategori dalam laporan.

Mulai dari cakupan dan keterbatasan

Periksa entitas, periode, jenis pajak, serta transaksi yang ditelaah. Apakah review mencakup seluruh data atau menggunakan pemilihan transaksi tertentu? Apakah dokumen penting belum diperoleh? Pertanyaan tersebut menentukan seberapa jauh kesimpulan dapat digunakan.

Laporan tidak boleh dibaca seolah-olah semua tahun dan semua kewajiban telah diuji apabila penugasannya terbatas. Tidak adanya temuan pada area yang tidak diperiksa bukan konfirmasi bahwa area itu bebas risiko. Penetapan pajak tetap mengikuti ketentuan administrasi yang relevan. [KUP, Pasal 12 dan Pasal 13]

Bedakan tiga jenis angka

Pertama, jumlah kewajiban yang sudah terkonfirmasi. Kedua, estimasi eksposur berdasarkan asumsi yang dapat ditelusuri. Ketiga, nilai transaksi yang berpotensi terdampak tetapi belum dapat dikonversi menjadi estimasi pajak. Ketiganya tidak boleh dijumlahkan begitu saja sebagai “total pajak yang akan dibayar”.

Sebagai ilustrasi, laporan menyebut biaya jasa Rp1 miliar yang belum didukung bukti lengkap. Nilai transaksi tersebut bukan otomatis pajak sebesar Rp1 miliar. Penelaah perlu menentukan jenis pajak, dasar koreksi, pengaruh kredit atau kompensasi, dan sanksi yang relevan sebelum memberikan estimasi. Hindari perhitungan ganda antara beberapa isu atas transaksi yang sama.

Tanyakan apa yang dapat mengubah kesimpulan

Setiap temuan sebaiknya menunjukkan bukti tambahan yang dapat memperkuat atau mengurangi risiko. Misalnya, kontrak dan hasil pekerjaan dapat membantu menjelaskan biaya, sedangkan rekonsiliasi dapat memisahkan salah pencatatan dari salah pelaporan. Catat pula apakah otoritas telah menyampaikan posisi resmi atau masalah masih berupa penilaian penelaah.

Manajemen kemudian dapat memilih tindakan sebelum transaksi, perlindungan dalam perjanjian, atau rencana perbaikan setelah transaksi. Tetapkan penanggung jawab dan tenggat untuk setiap tindakan. Daftar rekomendasi yang tidak memiliki pemilik sering berhenti sebagai lampiran.

Apakah semua rekomendasi harus dilaksanakan sebelum investasi? Tidak selalu. Keputusan mengikuti tingkat risiko, kemampuan memperbaiki, dan kesepakatan pihak-pihak. Namun, penundaan harus menjadi pilihan sadar yang tercatat, bukan akibat temuan terlewat dibahas.

JSmart Tax Consultant dapat membantu membahas laporan due diligence bersama manajemen agar asumsi, eksposur, dan langkah tindak lanjutnya dipahami sebelum digunakan dalam keputusan investasi.

Rujukan artikel

[KUP] UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, sebagaimana telah diubah; kompilasi DJP 2023

Konsultasi via WhatsApp